the robe


       I.            Pendahuluan

Juga dikenal dengan istilah logistik, manajemen rantai suplai (supply chain management) mengelola keterhubungan beberapa instansi bisnis yang terlibat dalam pengadaan barang dan jasa yang dipakai dalam proses produksi sebuah perusahaan. Alur rantai suplai ini mencakup proses-proses dari perencanaan pengadaan barang mentah (raw material), persediaan barang siap produksi (work-in-process inventory), dan pengelolaan barang jadi hasil produksi (finished good), sampai pada titik konsumsi pelanggan (point of consumption).

Manajemen rantai suplai didefinisikan sebagai koordinasi secara sistemik dan strategis dari fungsi-fungsi bisnis dan taktik yang mengintegrasikan fungsi – fungsi bisnis dari sebuah perusahaan dan perusahaan – perusahaan lain yang terlibat dalam rantai suplai perusahaan tersebut, untuk tujuan peningkatan performa jangka panjang dari perusahaan pada khususnya dan rantai suplai pada umumnya (Mentzer et al., 2001)[1]. Di pihak lain, rantai suplai (supply chain) merupakan kumpulan organisasi ataupun perusahaan yang dihubungkan oleh satu atau lebih aliran upstream dan/atau downstream barang, jasa, keuangan, dan informasi dari sumbernya sampai ke konsumen.

Elemen – elemen di dalam suplai chain mencakup: pelanggan (customer), perencanaan (planning), puschasing/procurement, persediaan (inventory), produksi (production), dan transportasi (transportation). Pelanggan memulai rantai kejadian (event) ketika mereka memutuskan membeli sebuah produk. Pelanggan akan menghubungi divisi penjualan, yang akan memasukkan pesanan (order) untuk jumlah tertentu dan diantarkan pada tanggal tertentu. Kemudian pesanan ini akan digabungkan dengan pesanan dari pelanggan lain oleh divisi perencanaan, yang akan membuat rencana produksi untuk memenuhi pesanan pelanggan. Untuk mulai proses produksi, perusahaan akan melakukan pembelian bahan mentah (raw materials). Divisi purchasing akan mengumpulkan daftar bahan mentah yang perlu disediakan, kemudian mengirimkan pesanan kepada pemasok (supplier) untuk dikirimkan pada tanggal yang ditetapkan. Bahan mentah yang sudah dikirimkan akan disimpan sebagai persediaan produksi sampai bahan tersebut dipakai dalam proses produksi. Pemasok sudah bisa mengirimkan tagihan atas bahan-bahan yang sudah mereka kirimkan. Barang jadi hasil produksi akan dikeloia dalam penyimpanan (warehouse) dan dicarikan mekanisme transportasi yang paling efisien untuk mencapai konsumen sebelum tanggal yang telah ditetapkan pada pesanan.

 

 

   II.            Supply Chain Management

Permasalahan-permasalahan yang ditangani SCM

Manajemen rantai suplai (supply chain management) harus mengatasi permasalahan – permasalahan berikut.

  • Konfigurasi Jaringan Distribusi (distribution network configuration): jumlah, lokasi, dan struktur usaha dari pemasok, fasilitas produksi, distribution center, gudang, dan pelanggan.
  • Strategi distribusi: kontrol operasi (sentralisasi atau desentralisasi), skema pengantaran (direct shipment, pool point shipping, cross docking, ataupun direct store deliveries), moda transportasi (darat, laut, atau udara), dan control transportasi (dilakukan oleh perusahaan itu sendiri atau menggunakan jasa pengantaran).
  • Trade off: aktivitas diatas perlu dipertimbangkan secara keseluruhan sehingga perusahaan dapat mengoperasikannya dengan biaya total yang paling rendah.
  • Informasi: berkenaan dengan integrasi proses – proses, informasi yang di-share mencakup: sinyal permintaan (demand signal), prakiraan (forecast), persediaan (inventory), transportasi, kolaborasi potensial, dan sebagainya.
  • Manajemen persediaan: kuantitas dan lokasi dari persediaan, termasuk bahan mentah, work-in-process, dan barang jadi hasil produksi.
  • Arus kas: pengaturan ketentuan dan metode pembayaran, dan peralihan dana atar bagian – bagian dari rantai suplai.

Kegiatan dan fungsi berkaitan dengan SCM

Untuk dapat memastikan bahwa rantai suplai beroperasi seefisien mungkin dan menghasilkan kepuasan pelanggan yang maksimal dengan biaya yang paling rendah, perusahaan perlu mererapkan manajemen rantai suplai dan teknologi yang berkaitan. Manajemen rantai suplai memiliki tiga tingkatan kegiatan dimana masing-masing kegiatan ditangani oleh divisi yang berbeda.

Ø  Strategic level

Pada tingkatan ini, manajemen perusahaan akan mengelola keputusan – keputusan tingkat tinggi berkenaan dengan perusahaan, seperti: ukuran dan lokasi pabrik, distribution center, dan gudang; hubungan kerjasama dengan pemasok bahan mentah; produk yang akan diproduksi dan sasaran pasar. Tingkatan ini diarahkan untuk keperluan jangka panjang dan memerlukan komitmen dari sumber dayanya.

Ø  Tactical level

Keputusan – keputusan yang diambil di level ini focus kepada ukuran – ukuran yang menghasilkan keuntungan dalam segi biaya, misalnya best practice, pengembangan strategi pembelanjaan dari supplier tertentu, bekerja sama dengan perusahaan logistic untuk menghemat biaya transportasi dan gudang guna penyimpanan persediaan. Tingkatan ini diarahkan untuk melihat kepada permintaan konsumen.

Ø  Operational level

Keputusan – keputusan pada tingkatan ini dibuat setiap hari dan mempengaruhi bagaimana produk berpindah antar bagian dari rantai suplai. Contohnya antara lain: perubahan jadwal produksi, perjanjian belanja dengan pemasok, pencatatan pesanan pelanggan.

Integrasi Process Bisnis Rantai Suplai

Menurut Lambert (2004), proses inti dari rantai suplai meliputi:

  • Manajemen relasi pelanggan (customer relationship management)
  • Manajemen layanan pelanggan (customer service management)
  • Management permintaan (demand management)
  • Pemenuhan pesanan (order fulfillment)
  • Manajemen arus manufaktur (manufacturing flow management)
  • Manajemen relasi pemasok (supplier relationship management)
  • Pengembangan dan komersialisasi produk (product development and commercialization)
  • Manajement retur (return management)

Wikipedia.com mengelompokkan proses-proses yang disebut Lambert di atas menjadi:

Ø  Customer Service Management Process

Proses ini berfokus kepada hubungan antara perusahaan dengan pelanggannya. Customer service adalah sumber untuk informasi tentang pelanggan. Beberapa organisasi yang sukses menggunakan langkah-langkah berikut:

  • Penentuan tujuan yang memuaskan kedua belah pihak: perusahaan dan customer
  • Menciptakan dan menjaga kenyamanan customer
  • Menciptakan suasana positif di dalam organisasi dan juga pada customer.

Ø  Procurement Process

Rencana – rencana strategis disusun bersama dengan pemasok untuk mendukung proses alur manufatur dan pengembangan produk – produk baru. Untuk perusahaan yang berskala global, sumber – sumber suplai harus dikelola secara global. Hasil yang diharapkan adalah yang menghasilkan keuntungan win-win solution.

Ø  Pengembangan dan komersialisasi produk

Dalam proses ini, pemasok dan pembeli harus di-integrasikan menjadi sebuah proses pengembangan produk dehingga mempersingkat time to market. Karena life-cycle produk diperpendek, produk tersebut harus dikembangkan dan diluncurkan dengan jadwal yang lebih singkat untuk menjaga agar tetap kompetitif.  Lambert dan Cooper (2000) menjelaskan langkah-langkah yang perlu diambil:

  • Koordinasi dengan CRM untuk mendapatkan gambaran jelas mengenai keinginan spesifik customer terhadap produk
  • Bersama dengan procurement, memilih material dan pemasok
  • Mengembangkan teknologi produksi dalam arus manufaktur untuk menghasilkan produk dan meng-integrasikannya dengan situasi pasar sehingga didapat arus rantai suppli yang terbaik.

Ø  Manajemen arus manufaktur

Proses ini menghasilkan dan memasok  produk ke channel distribusi berdasarkan prakiraan yang telah dibuat sebelumnya. Proses manufaktur ini harus bisa fleksibel dalam menjawab perubahan pasar dan harus mendukung kustomisasi masal. Pesanan-pesanan diproses dalam skema just-in-time (JIT).

Ø  Distribusi fisik

Proses ini berfokus pada perpindahanbarang jadi ke tangan konsumen. Dalam distribusi fisik, konsumen adalah tujuan akhir dari channel pemasaran (marketing channel), dan ketersediaan produk merupakan bagian vital dari setiap usaha pemasaran.

Ø  Outsourcing / partnership

Selain pembelian bahan baku dan komponen, banyak perusahaan belakangan juga melakukan outsource untuk layanan yang sebelumnya dilakukan in-house. Dengan outsourcing ini, perusahaan dapat lebih fokus kepada kegiatan-kegiatan yang lebih penting atau menguntungkan dalam rantai nilai mereka.

Ø  Pengukuran Kinerja

Integrasi antara pemasok dan pembeli berhubungan erat dengan market share dan tingkat keuntungan perusahaan. Kompetensi logistic telah menjadi faktor penting dalam menciptakan dan memelihara tingkat keuntungan kompetitif perusahaan. Karena itu, pengukuran kinerja logistik memegang peranan penting. Unsur-unsur pengukuran kinerja internal diantaranya adalah: biaya (cost), layanan konsumen (customer service), ukuran produktivitas, pengukuran aset, dan kualitas.

 

 

III.            Just-in-time inventory management

Definisi just-in-time menurut about.com adalah metode yang membuat perpindahan bahan baku ke lokasi tertentu pada waktu dibutuhkan, misalnya pada saat bahan baku diperlukan dalam proses produksi.  Teknik ini akan nerjalan lancer jika tiap operasi disinkronisasi dengan operasi berikutnya. Strategi ini tentu saja meningkatkan return on investment (ROI) perusahaan dengan mengurangi biaya penyimpanan bahan baku, dan barang dalam proses industri, juga biaya relokasi bahan baku.

Implementasi JIT bergantung kepada sinyal-sinyal (Kanban) antar point – point dalam proses, yang memberi tanda kepada produksi untuk mulai pengolahan bahan baku. Beberapa aspek yang melingkupi implementasi JIT diantaranya:

Ø  Transaksi biaya

Bahwa secara konsep, dengan mengaplikasikan JIT, perusahaan mengurangi resiko dan biaya penyimpanan bahan baku di gudang mereka. Akan tetapi, secara prakteknya, penyimpanan imventory ini hanya di-outsource ke perusahaan supplier. Terbukti ditemukan Newman (1994) bahwa pemasok rata-rata menagihkan 5% harga premium untuk mendukung JIT.

Ø  Kepedulian lingkungan

Implementasi JIT membuat pemasok melakukan pengiriman rutin yang membuat tambahan waktu di perjalanan, dan pembakaran energi untuk transportasi.

Ø  Kestabilan Harga

JIT mengasumsikan bahwa harga bahan baku sebagai input produksi akan selalu konstan. Dalam kasus akan adanya kenaikan harga, penumpukan inventori akan lebih dipilih ketimbang JIT.

Ø  Kestabilan Kualitas

JIT juga mengasumsikan kualitas bahan baku yang didapat dari supplier akan selalu konstan. Salah satu cara untuk memastikannya adalah memilih beberapa pemasok terbaik dan bekerja sama dengan mereka dalam meningkatkan kualitas dan meminimalisasi variasi kualitas.

Ø  Kestabilan tingkat permintaan dan pasokan

Perencanaan tingkat pasokan yang akan diterima, seharusnya sesuai dengan prakiraan tingkat permintaan yang akan datang. Jika permintaan ternyata sangat berfluktuasi, akan sulit dilakukan perencanaan tingkat pasokan dari pemasok.

Contoh implementasi JIT

Ø  Toyota

Toyota Production System (TPS) adalah salah satu item dimana Toyota Motor Co. menugaskan pemasok. Sistem ini juga dikenal sebagai Kanban system dan telah dikenal secara global untuk jumlah persediaan yang kecil dan rasionalisasi menyeluruh.

TPS memiliki dua fitur penting: “Just-in-time production” dan “Jidoka” (penghentian otomatis jika sesuatu yang tidak beres terjadi).

Kondisi ideal dalam memproduksi barang adalah dimana peralatan, mesin dan pekerja menghasilkan sedikit barang sisa yang pada akhirnya menambah nilai produksi. “Just-in-time production” merupakan mekanisme yang diharapkan merealisasikan kondisi ideal di atas menjadi praktek nyata di seluruh lini operasi dan proses. Dengan istilah lain, dengan “just-in-time production” setiap proses dapat memasok bagian yang dibutuhkan dalam jumlah yang dibutuhkan pada waktu dibutuhkan. Di sisi lain, “Jidoka” membuat mesin, peralatan ataupun pekerja berhenti seketika pada saat terjadi kesalahan  guna dilakukan tindakan-tindakan yang diperlukan.

Untuk membuat “just-in-time production” dan “jidoka” fleksibel untuk sebuah pabrik, beberapa kondisi perlu dipenuhi:

  1. Jumlah produksi pada tiap proses ditentukan pada tingkat dan spesifikasi produk.
  2. Pencegahan terjadinya produksi yang berlebihan
  3. Terjadinya kesalahan dapat dengan mudah dirtandai dengan beberapa indikasi (buzzer atau lampu)

Toyota Production System menggunakan kartu Kanban sebagai perangkat kerja. Sistem Kanban ini menghubungkan pemasok sebagai proses produksi dengan setiap rencana-rencana Toyota dan membuatnya untuk meminimalisasi persediaan pada work in process.

Ø  Xerox

Contoh kasus untuk Xerox sebagai pemasok yang menawarkan fasilitas “Just-in-time product documentation” kepada perusahaan pembuat Truk, Freightliner. “Just-in-time product documentation” yang diajukan oleh Xerox menjawab kebutuhan Freightliner dalam menghasilkan dan mengantarkan dokumentasi teknis tentang truknya dalam jumlah yang sesuai permintaan (tidak berlebihan seperti yang sebelumnya diimplementasikan Frightliner dengan teknologi cetak offset). Dengan jumlah yang tidak berlebihan ini, Freightliner mengatasi masalahnya dalam pemborosan biaya ketika dokumentasi teknisnya perlu direvisi sebagian atau diterjemahkan ke bahasa lain. Keuntungan yang diberikan Xerox dengan “Just-in-time product documentation” antara lain:

  • Biaya produksi per unit yang lebih rendah dalam pencetakan dokumentasi
  • Mengurangi biaya penyimpanan dokumentasi yang belum terpakai dan biaya pemusnahan dokumen yang sudah tidak relevan.
  • Integritas dokumen lebih terjamin
  • Kemudahan untuk melakukan kostumisasi atau personalisasi dokumen untuk konsumen tertentu atau pasar dan jenis produk tertentu.
  • Pencetakkan dalam media, format dan bahasa yang beragam dalalm waktu singkat.

Xerox menggunakan metodologi Lean Six Sigma untuk mendukun produksi publikasi teknis menjadi proses yang measureable dan manageable.

Ø  Perusahaan kecil dan menengah

Dalam studi kasusnya, Gunasekaran dan Lyu (1997) mengajukan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam implementasi Just-in-time di perusahaan kecil dan menengah:

  • Implementasi dari JIT di perusahaan kecil dan menengah perlu dimulai dari perubahan layout, stabilitas penjadwalan, dan pembangunan hubungan jangka panjang dengan pemasok dan pembeli.
  • Mekanisme baru dalam purchasing: pembelian teratur dalam jumlah kecil dapat mendukung terealisasinya JIT.
  • Pelatihan dan pendidikan para pekerja tentang konsep dan keuntungan – keuntungan yang ditawarkan JIT. Dalam rangka implementasi JIT, pekerja harus sangat disiplin dan berkemampuan teknis tinggi.
  • Penentuan dan pemilihan kegiatan – kegiatan yang menambah nilai dan tidak menambah nilai di pabrik adalah sangat penting dalam penerapan JIT.
  • Komitmen dari top management sangat dibutuhkan untuk menjamin efektivitas dan kesuksesan penerapan JIT di perusahaan kecil dan menengah.

 

 

 IV.            Penutup

Kesimpulan

Manajemen Rantai Suplai (Supply Chain Management) mencakup kegiatan-kegiatan dalam perencanaan mendapatkan dan mengelola bahan baku, dan bagian komponen dalam proses, mengelola penyimpanan barang jadi, packaging, sampai pada penghantarannya ke konsumen. Karena sifat kegiatannya di atas, SCM harus mampu mengintegrasikan semua proses dan entitas yang berhubungan dengan pemasok, persediaan (inventory), work in process, penyimpanan (storage) dan transportasi.  Pengelolaan rantai suplai ini bertujuan untuk memaksimalkan kepuasan pelanggan dengan pengelolaan proses-proses yang paling efisien.

Salah satu pendekatan dalam praktek SCM adalah terminologi just-in-time. Dalam terminology ini, pasokan bahan baku di rencanakan secara sistematis sehingga dapat mencapai meja produksi dalam jumlah sesuai kebutuhan pada waktu yang ditentukan dan tidak berlebihan. Produksi dan penghantaran barang jadi ke konsumen juga dikelola sesuai kebutuhan konsumen sehingga tidak terjadi kelebihan produksi dan meminimalisasi biaya penyimpanan dan pemusnahan produk yang tidak laku dan ketinggalan jaman.

 

Saran

Pelaksanaan JIT memerlukan komitmen dari semua lini perusahaan secara total. Material yang cocok, berkualitas, pekerja dan peralatan harus dipastikan selalu tersedia ketika dibutuhkan. Baik dalam perusahaan besar maupun menengah, bahkan kecil, JIT yang dijalankan dengan penuh komitmen telah terbukti meningkatkan produktivitas dan produk yang lebih berkualitas dan kompetitif. Namun demikian, JIT tetap bersifat sebagai tool, kunci suksesnya tetap adalah dedikasi penuh dan berkesinambungan dalam melakukan pekerjaan yang benar (do the right job) dan melakukan pekerjaan dengan benar (do the job right) setiap waktu.

    V.            Referensi

  1. Gunasekaran and J. Lyu. 1997. Implementation ost just-in-time in a small company.

Just-in-time (business), http://en.wikipedia.org/wiki/Just-in-time_%28business%29, diakses 19 Dec 10

Lambert, Douglas M.Supply Chain Management: Processes, Partnerships, Performance, 3rd edition, 2008.

Mentzer, J.T. et. al. (2001): Defining Supply Chain Management, in: Journal of Business Logistics, Vol. 22, No. 2, 2001, pp. 1–25

Supply chain management, http://en.wikipedia.org/wiki/Supply_chain_management, diakses 19 Dec 10

Xerox, 2005. Transportation Case Study: Freightliner, LLC. Just-in-time documentation significantly cuts cost and reduces time to market.

http://logistics.about.com/od/supplychainintroduction/a/into_scm.htm, diakses 19 Dec 10

http://logistics.about.com/od/supplychainglossary/g/JustInTime.htm, diakses 19 Dec 10

[1] Mentzer, J.T. et. al. (2001): Defining Supply Chain Management, in: Journal of Business Logistics, Vol. 22, No. 2, 2001, pp. 1–25

Advertisements

Case 1 in Ferrel, Business; A Changing World, 7e: Clothing Industry Goes Green

By: Marcel Wijaya, for: group discussion in IB course.

I.                   Pengertian

Etika bisnis didefinisikan sebagai sebagai prinsip dan standar yang menentukan perilaku-perilaku yang dapat diterima dalam organisasi bisnis. Prinsip dan standar penerimaan tersebut ditentukan oleh pelanggan, pesaing, peraturan pemerintah, kelompok komunitas, dan masyarakat umum, serta juga prinsip dan nilai moral dari setiap individu dalam organisasi tersebut. Sedangkan, tanggung jawab sosial didefinisikan sebagai kewajiban organisasi untuk memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negative pada masyarakat.

Kepedulian terhadap etika dan tanggung jawab dasar telah dituangkan pada hukum dan peraturan yang mendorong bisnis untuk bertindak sesuai dengan standard, nilai dan perilaku masyarakat. Dalam pembahasan kaitan etika dan hukum terdapat daerah abu-abu, dimana kegiatan yang dianggap tidak etis, belum tentu berarti melangar hukum. Ditambah lagi konsern untuk standar etis dan hukum berubah seiring waktu. Seperti dirangkum pada table 1.

Tabel 1 Perubahan standar dan nilai Etika dan Tanggung Jawab Sosial

Terdapat banyak permasalahan dan perselisihan dalam bisnis bisa dihindari jika pemilik, pengelola dan para karyawan mengetahui dan mengamalkan sistem hukum dan legal bisnis. Etika bisnis, tanggung jawab sosial dan hukum bersama betindak sebagai system kepatutan, yang megharuskan organisasi bisnis dan karyawan berlaku secara bertanggung jawab dalam masyarakat.

II.                Tanggung jawab sosial

Tanggung jawab sosial memiliki 4 dimensi: ekonomi, legal, etika dan kegiatan sukarela. Hubungan antara keempat dimensi ini di rangkum dalam piramida tanggung jawab sosial pada Gambar 1. Mencari keuntungan merupakan tanggung jawab mendasar perusahaan , langkah selanjutnya adalah bertindak sesuai dengan hukum yang berlaku. Kemudian, ketika organisasi bisa beroperasi pada tingkatan norma – norma etis (diluar hanya sekedar beroperasi sesuai aturan hukum) maka organisasi tesebut dianggap menjalankan tanggung jawab sosial etis. Kegiatan sukarela menjadi tingkatan tertinggi karena perusahaan yang menerapkannya dinilai lebih berinisiatif melakukan hal bermanfaat diluar keharusan-keharusannya.

Gambar 1 Piramida Tanggung Jawab Sosial

Corporate citizenship adalah perluasan dimana perusahaan melakukan tanggung jawab sosial ekonomi, legal, etik, dan sukarelanya atas kehendak stakeholder nya. Issue dalam corporate citizenship yang paling berkembang saat ini adalah pelestarian lingkungan. Baik pelanggan, pemerintah, dan komunitas pecinta lingkungan sangat peduli akan gas rumah kaca, dan emisi CO2 yang berkontribusi pada pemanasan global.

Sebagian besar masyarakat setuju bahwa perubahan iklim ini merupakan keadaan darurat global. Jawaban atas krisis ini antara lain: energi alternatif (energi matahari, angin, biogas, panas bumi, dan air), inisiatif hijau dengan pemilihah peralatan dan bahan yang menghasilkan lebih sedikit emisi CO2 dalam aktivitas, penghijauan taman kota dan lahan kosong di atap gedung, optimalisasi reuse, reduce dan recycle.

Berkenaan dengan etika dan tanggung jawab sosial bisnis, Ferrel, Hirt dan Ferrel dalam buku Business  in A Changing World menyampaikan beberapa argumen yang menilai perlunya perusahaan turut terlibat aktif, diantaranya: entitas bisnis berperan menciptakan permasalahan sosial sehingga seharusnya juga mengambil bagian dalam penyelesaiannya, perusahaan dinilai memiliki dana dan sumber daya yang berkompeten, entitas bisnis juga adalah bagian dari masyarakat sehingga sangat wajar turut serta membangun masyarakat. Melalui pelaksanaan tanggung jawab sosial, perusahaan berkepentingan untuk menjamin kelangsungan pertumbuhan ekonomi, sehingga secara tidak langsung sebenarnya mempersiapkan calon konsumen dengan daya beli yang memadai untuk masa depan. Strategi bisnis hijau tidak hanya memberikan perusahaan keuntungan komersial di pasar, tetapi juga menciptakan dunia yang lebih lestari.

Hubungan dengan pemilik usaha dan pemegang saham

Perusahaan pertama-tama berkepentingan dan bertanggung jawab terhadap pemilik dan pemegang saham, yang peduli terhadap kinerja dan keuntungan yang dihasilkan dari modal yang mereka tanamkan. Kewajiban perusahaan kepada para investor dan masyarakan finansial secara umum adalah meliputi pengerjaan procedure akuntansi berterima umum, penyediaan informasi terkait mengenai kinerja saat ini dan proyeksinya untuk masa datang dan kepastian hak-hak atas investasi mereka. Singkat kata, perusahaan bertanggung jawab memaksimalkan investasi para pemilik saham.

Hubungan pekerja

Para pekerja berharap perusahaan dapat memfasilitasi mereka dengan tempat kerja yang memadai dan aman, membayar mereka secara adil dan layak untuk kerja mereka, dan informasi tentang apa yang sedang terjadi dalam perusahaan tersebut. Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja sangat membantu untuk menjadi pedoman terhadap keputusan-keputusan yang diterapkan perusahaan terhadap para pekerjanya. Serikat pekerja juga telah membuat kontribusi yang jelass dapam pencapaian keselamatan kerja dan peningkatan kesejahteraan pekerja. Sebagian besar perusahaan saat ini telah menyadari bahwa keselamatan dan kepuasan pekerja adalah komposisi penting dari berhasilnya perusahaan.

Di tempat lain, kesetaraan derajat untuk para pekerja terlepas dari jenis kelamin, ras, usia dan golongan juga merupakan issue penting dalam tanggung jawab sosial perusahaan. Di masa lalu, sangat banyak kesenjangan antar pekerja terjadi karena perlakuan berbeda yang diberikan perusahaan terhadap golongan atau jenis kelamin tertentu. Namun seiring perkembangan jaman, perusahaan telah banyak melakukan penyesuaian untuk menjalankan kewajiban mereka dalam penyediaan kesempatan yang setara bagi wanita dan kaum minoritas.

Hubungan konsumen

Bisnis juga memiliki tanggung jawab besar terhadap konsumennya, yang memilih perusahaan yang menyediakan produk yang aman, memuaskan dan menghormati hak – hak konsumen. Konsumen dapat memberi feedback bahkan menekan para pengusaha lewat pengacara dan surat kepada perusahaan, laporan kepada lembaga pemerintah misalnya YLKI, publikasi lewat media massa dan surat pembaca, sampai pada tindakan boikot terhadap perusahaan yang dinilai tidak bertanggung jawab.

Konsumen di Amerika sejak tahun 1962 memiliki 4 hak yang dilindungi oleh undang-undang, antara lain: right to safety, right to be informed, right to choose, dan right to be heard. Right to safety melindungi konsumen dari perusahaan yang secara sengaja memasarkan produk yang dapat membahayakan konsumen. Right to be informed memberikan konsumen kebebasan untuk mempelajari informasi yang lengkap dari sebuah produk sebelum melakukan pembelian. Ini mengharuskan komposisi, petunjuk penggunaan dan resiko penggunaan dicetak pada kemasan dan label produk. Right to choose memastikan bahwa konsumen memiliki akses terhadap sejumlah produk dan layanan pada harga yang wajar dan kompetitif. Right to be heard menjamin konsumen bahwa kepentingan konsumen akan diperhitungkan secara penuh dan simpatik pada setiap perumusan undang-undang dan peraturan pemerintah.

Issue lingkungan

Karena kesadarannya akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, masyarakat saat ini semakin menuntut perusahaan dan organisasi bisnis untuk lebih menunjukkan tanggung jawab terhadap aktivitas mereka dan dampaknya pada lingkungan. Concern yang dimaksud mencakup perlakuan adil bagi hewan, dan polusi.

Perlakuan adil bagi hewan

Praktek bisnis yang disorot dalam issue ini antara lain industri kosmetik dan obat-obatan yang menggunakan hewan sebagai objek percobaan produk mereka, yang mungkin menyakiti atau bahkan sampai membunuh hewan percobaan tersebut. Konsumen dengan kepedulian terhadap issue ini dapat melakukan pem-boikotan terhadap industri yang menggunakan hewan sebagai bahan percobaan dan atau beralih ke produk lain sejenis yang tidak menggunakan hewan percobaan. Kondisi yang hampir serupa juga menyangkut industri pakaian atau fashion yang menggunakan bagian tubuh hewan sebagai bahan baku, contohnya tas kulit, syal kulit rubah, dan lain sebagainya.

Polusi

Kepedulian terhadap lingkungan juga menentang aktivitas yang tidak memperhatikan buangan limbah dan polusi. Air bisa terpolusi dari bahan kimia beracun, buangan limbah ke sungai dan laut tanpa diolah, tumpahan minyak, timbunan limbah industri di tanah dimana bisa merusak kualitas air tanah. Pupuk dan insectisida juga bisa meracuni air tanah. Polusi terhadap tanah berdampak langsung terhadap polusi air, karena bahan-bahan berbahaya yang larut dalam tanah akan terbawa air ke cadangan air tanah. Ini termasuk buangan limbah rumah tangga seperti sabun, plastik dan sisa obat. Polusi tanah lainnya berasal dari kegiatan pertambangan, pembakaran hutan untuk pembukaan lahan, penebangan liar dan konservasi hutan yang kurang baik. Pembukaan hutan (deforestasi) mengurangi suplai oksigen yang tersedia bagi manusia dan hewan.

Kegiatan penanggulangan issue lingkungan

Sebagai bagian dari respons terhadap issue lingkungan, pemerintah Indonesia sebagai contoh menerapkan dan mengharuskan studi AMDAL[1] dalam setiap perencanaan pembukaan hutan dan usaha. Banyak juga perusahaan baik besar maupun kecil, sebut saja Walt Disney dan Chevron, yang membuat posisi eksekutif khusus dalam struktur usahanya – Wakil Presiden Direktur urusan Lingkungan (Vice President of environmental affairs – untuk menjamin perusahaan mereka bisa mencapai tujuan usahanya namun tetap menjaga kegiatan usahanya bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan. Bentuk usaha lainnya menuliskan peraturan tentang lingkungan dalam peraturan perusahaannya, meningkatkan usaha-usaha daur ulang dan pemakaian ulang kemasan produk, dan juga investasi dalam sistem pengolahan limbah.

Perusahaan yang mengusahakan kegiatan – kegiatan untuk menjadikan produk mereka lebih ramah lingkungan dapat diberikan lable “bisnis hijau”. Sebagai contoh green business certification (http://www.gbcertified.com/home09.asp diakses 23 Oct 10)

III.             Clothing Industry Goes Green

Kasus yang diangkat oleh Ferrell, Hirt, dan Ferrell dalam pembahasan tanggung jawab sosial adalah industri pakaian yang seharusnya lebih ramah lingkungan.

Permasalahan lingkungan yang disebabkan industri pakaian

Dalam tulisannya, “My battle to green the clothing industry”[2], Katharine Hamnett yang merupakan seorang yang kompeten di industri ini dalam karirnya sebagai desainer menjelaskan bahwa pengamatannya mengenai dampak lingkungan dari industri pakaian sangat menakutkan. Sebagai industri terbesar ke-empat, industri pakaian diperkirakan mempekerjakan total 1 milyar orang pada tahun 1989.

Keseluruhan proses industri ini mengandung dampak negative bagi lingkungan, seperti dirangkum dibawah ini:

–          Pestisida yang digunakan untuk menjaga tanaman kapas (katun) dari hama dapat meracuni kehidupan liar, dan mengkontaminasi air sungai dan kehidupan didalamnya. Sekitar 100 ribu petani meninggal keracunan pestisida setiap tahunnya, dan 200 ribu lainnya menderita penyakit akut karena pestisida.

–          Bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi pakaian sebagai pemutih (clorine bleach) menghasilkan limbah pathogen paling berbahaya di dunia: dioxin, proses pewarnaan dan cetak pakaian juga sangat rentan terhadap kebocoran logam berat yang dapat meracuni sungai dan sumber air bersih bagi makhluk hidup.

–          Mesin – mesin yang dipakai dalam industri pakaian sangat berisik, menyebabkan polusi suara dan udara

–          Pemakaian sumberdaya alam seperti air yang berlebihan untuk tanaman kapas mengganggu keseimbangan ekosistem

–          Untuk bahan nylon dan polyester yang merupakan bahan sintetis membuat pakaian yang dihasilkan menjadi non-biodegradeable. Proses produksinya juga menghasilkan gas nitro oxide, gas rumah kaca yang 310 kali lebih berbahaya dari CO2

–          Untuk bahan kulit dan wool selain polusi yang dihasilkan juga bermasalah dengan issue exploitasi terhadap hewan

–          Dari segi pekerja dalam industri ini, sebagian besar merupakan buruh dengan upah sangat rendah, tidak jarang adalah anak-anak yang dibayar sangat murah.

Green Clothing Industry – Eco-fashion

Istilah Eco-fashion mewakili industri pakaian yang memperhatikan kelestarian lingkungan, kesehatan konsumen dan kondisi kerja yang baik bagi para pekerja. Konsep eco-fashion meliputi:

–          Bahan baku yang organic, sebagai contoh kapas yang ditanam tanpa pestisida atau sutra yang didapat dari ulat yang mengkonsumsi tanaman organic

–          Proses produksinya tidak melibatkan bahan-bahan kimia yang berbahaya sebagai pewarna

–          Memanfaatkan bahan daur ulang sebagai bahan baku

–          Dibuat lebih tahan lama, sehingga konsumen dapat memakainya untuk jangka waktu yang lebih panjang

–          Melalui perdagangan yang adil, mencakup upah dan kondisi kerja yang wajar bagi para pekerjanya

–          Bahan baku alternative yang ramah lingkungan sebagai contoh kain dari serat bamboo, singkong ataupun jute.

Beberapa industri pakaian yang telah menerapkan green industri antara lain Patagonia yang didirikan oleh pencinta lingkungan Yvon Chouinard di tahun 1973 telah mengusahakan industrinya seramah mungkin dengan lingkungan. Ditambah lagi sejah tahun 1993 mulai memroses botol soda untuk didaur ulang menjadi bahan baku pakaian. Di tahun 1996, secara eksklusif menggunakan kapas organic sebagai bahan bakunya. Patagonia juga mengimplementasikan program daur ulang bahan, dimana konsumen dapat menukarkan pakaian lama mereka untuk dipakai bahannya dalam pakaian yang baru. Teva sandal and shoes juga memperkenalkan produk meraka yang diproduksi dari bahan-bahan daur ulang karet ban mobil dan botol plastic.

Permasalahan yang dihadapi green clothing

Karena semakin teredukasi, konsumen menjadi lebih kritis dalam pemilihan produk yang diklaim ramah lingkungan, namun tidak sampai di situ. Bahkan untuk perusahaan yang sudah menyebut produknya diproses secara organik, masyarakat masih menuntut pemilik bisnis untuk mengukur sampai tingkat mana produksinya dilakukan secara “hijau”. Hal ini yang dihadapi juga oleh Patagonia sehingga perusahaan ini membentuk tim yang diberi nama Footprint Chronicles. Tim ini akan mendokumentasikan dan membagikan informasi kepada umum, termasuk competitor, efek lingkungan yang disebabkan dalam setiap bagian dari Supply Chain Patagonia.

Terlepas dari meningkatnya kesadaran lingkungan, para konsumen ternyata masih mendasarkan pilihan produk mereka pada harga dan gaya. Ini membatasi perkembangan dari produk-produk pakaian ramah lingkungan seperti dijelaskan diatas. Dengan memastikan didapatkan dari perdagangan yang adil untuk para pelaku industrinya, harga dari pakaian ramah lingkungan sudah tentu lebih tinggi dari rivalnya. Kebanyakan konsumen juga tidak menyangka bahwa pakaian yang diproduksi secara organic bisa bergaya. Beberapa desainer tingkat dunia seperti Stella McCartney, Donna Karan, H&M, dan Rogan telah mengeluarkan mode mereka dalam versi organik. Para selebriti popular juga memanfaatkan ketenaran mereka dalam mengampanyekan pakaian organik.

IV.             Penutup

Kesimpulan

Bahwasannya industri pakaian konvensional sangat banyak berkontribusi pada issue lingkungan dan tenaga kerja, maka sesuai dengan tanggung jawab sosial bisnis di bidang lingkungan dan hubungan pekerja diperlukan inisiatif dari para pemilik dan pengelola industri pakaian untuk beralih ke cara bisnis yang lebih ramah lingkungan dan lebih adil terhadap pekerja. Inisiatif yang dimaksud adalah perilaku bisnis yang ramah lingkugan, adil bagi para pekerja dan menjamin kesehatan dan keselamatan konsumen.

Dengan menganut bisnis hijau, industri pakaian dapat berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan dengan meniadakan tingkat kontaminasi tanah dan air dari pestisida dan herbisida pada tahap pertanian, meniadakan limbah racun pathogen dioxin, NO2 dan juga logam berat pada proses produksi dan pewarnaan. Pemanfaatan barang-barang bekas dan daur ulang jelas meningkatkan nilai dari barang-barang yang semula sudah tidak berguna sehingga mengurangi beban lingkungan dari barang-barang buangan. Dengan meniadakan bahan-bahan berbahaya, industri juga berperan pada tanggung jawab sosial terhadap keselamatan dan kesehatan konsumen. Kesejahteraan dan keselamatan para pekerja industri juga lebih terjamin.

Walaupun bertujuan baik, penerapan bisnis hijau dalam industri pakaian tetap saja menemui hambatan diantaranya konsumen yang tetap memilih produk yang lebih gaya dan lebih murah. Sehingga perusahaan banyak menemui dilema disatu sisi bahan baku dan produksi yang ramah lingkungan jelas menimbulkan biaya tambahan dan masih jarang desainer yang terjun di bidang ini, di sisi lain, konsumen menuntut produk yang berkualitas dengan harga kompetitif.

Walaupun tingkat kemajuan perubahan menuju industri pakaian yang ramah lingkungan banyak menemui kendala, namun secara keseluruhan dan global industri ini telah bergerak ke arah yang semestinya.Dari sisi konsumen, peminat produk-produk ramah lingkungan diluar kendaraan dan makanan dinyatakan meningkat 15% di tahun 2007 oleh Marshall Cohen dari riset pasar oleh NDP Group. Di sisi desainer, jika di tahun 2004 Leslie Hofman dari Earth Pledge hanya menemukan 50 sampai 60 material terbarui yang dipakai dalam industri pakaian, di tahun 2010 ada sekitar 700 material terbarui.

Saran

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dunia bisnis adalah dengan memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negative bagi lingkungan, maka industri pakaian yang ramah lingkungan dan adil bagi para pekerjanya adalah jawaban yang ideal. Industri pakaian sebagai jenis industri terbesar keempat di dunia semestinya lebih memfokuskan diri dalam menjawab tantangan pasar untuk menciptakan produk organik yang lebih baik dengan harga yang lebih terjangkau dan bukan malah memanfaatkan minat konsumen yang masih besar terhadap produk konvensional yang harganya lebih kompetitif. Kampaye yang lebih gencar tentang industi pakaian ramah lingkungan juga merupakan tanggung jawab pemerintah, kelompok masyarakat dan bisnis yang telah memahami kerugian yang ditimbulkan industri konvensional.

Tuntutan konsumen merupakan salah satu faktor pengerak penting bagi industri diluar tekanan peraturan pemerintah. Sehingga, konsumen sebenarnya punya andil yang sangat besar guna menumbuhkan dan menyuburkan industri pakaian yang ramah lingkungan. Dengan memahami konsekuensi dan kerugian tetap memilih produk dari industri konvensional, dan mempertimbangkan keuntungan dari industri hijau, konsumen punya daya yang besar untuk mendorong industri lebih cepat beralih. Jika bukan kita yang memilih untuk menolak produk dengan bahan kimia berbahaya, maka kita dan keturunan kita akan terus menerus menemui bahan pangan yang mengandung logam berat dan bahan kimia beracun sebagai konsekuensinya.

Referensi

Agustin,Lenny. “Baju Ramah Lingkungan dari Singkong dan Kawat”. http://bataviase.co.id/node/191028, diakses 24 Oct 10

Ferrell O.C., Hirt Geoffrey A, Ferrel Linda. “Business in a Changing World 7th edition”. McGraw Hill. 2009

Hamnett, Katharine. “My Battle to Green the Clothing Industry”, http://www.theecologist.org/green_green_living/clothing/268668/my_battle_to_green_the_clothing_industry.html, diakses 23 Oct 10

“Impact of Textiles-and Clothing Industryon Environment”, http://www.fibre2fashion.com/industry-article/textile-industry-articles/impact-of-textiles-and-clothing-industry-on-environment/impact-of-textiles-and-clothing-industry-on-environment2.asp, diakses 23 Oct 10

Walker, Alissa. “Measuring Footprints”, http://www.fastcompany.com/magazine/124/measuring-footprints.html, diakses 23 Oct 10

http://www.dephut.go.id/files/6_07.pdf, diakses 23 Oct 10

http://www.gbcertified.com/home09.asp, diakses 23 Oct 10

 

Marcel Wijaya

 

I.            Pendahuluan

Peningkatan kualitas kelangsungan hidup manusia sejak jaman purbakala hingga saat ini tidak terlepas dari adanya proses pewarisan pengetahuan dari kelompok yang senior atau lebih berpengalaman kepada kelompok yang lebih muda. Proses dua arah ini, pewarisan dari senior dan pembelajaran dari junior, terbukti mempersingkat waktu yang dibutuhkan oleh junior untuk mengetahui dan memahami pengetahuan hampir seperti yang dimiliki oleh seniornya. Oleh karena itu, peradaban manusia bisa meninggalkan cara hidup nomaden menjadi agraris yang lebih menjanjikan, lalu terus berkembang ke era industri kemudian era informasi.

Seperti kelangsungan peradaban manusia, kelangsungan organisasi juga punya harapan agar terus berkembang, dan bukan sekedar “hidup”. Permasalahan-permasalahan kehidupan organisasi yang pernah dihadapi dan ditangani oleh anggotanya merupakan asset yang bisa dibagikan (sharing) kepada anggota lain organisasi yang kurang atau belum berpengalaman sehingga mereka lebih siap dan taktis dalam permasalahan yang serupa. Inilah ide dari knowledge management yang akan dibahas dalam paper ini.

II.         Definisi

Menurut The Computer Language Company yang dikutip dari bnet.com[1], knowledge management didefinisikan:

the coordination and exploitation of an organization’s knowledge resources, in order to create benefit and competitive advantage

the process of acquiring, storing, distributing, and using information within a company. The information is generally held on a powerful database and distributed via a communications network.

Tentu saja, sumber lain memiliki definisinya masing-masing. Namun, kesemuanya hampir sepakat bahwa kata kunci untuk knowledge management adalah: penciptaan/penggalian, pengelolaan/penyimpanan, penyebaran/pembagian, dan penggunaan/pemanfaatan informasi, dalam tujuannya untuk hasil bisnis yang lebih baik.

Knowledge management bercita-cita untuk mengumpulkan dan mengelola pengetahuan dari praktisi dalam organisasinya, untuk kemudian dibagikan guna memberikan manfaat yang kompetitif dan memberi nilai tambah terhadap organisasi tersebut. IT yang pada jaman sekarang ini telah menjadi landasan utama (bukan hanya sekedar pendukung (support)) dari semua organisasi bisnis tentu saja merupakan infrastruktur dimana knowledge management di-implementasikan.

David J. Skyrme, seorang praktisi, peneliti dan pengajar dalam bidang KM, dalam websitenya www.skyrme.com[2], menekankan aspek: explicit, sistematis, pengetahuan vital, proses, dan pencapaian tujuan bisnis. Menurutnya, KM harus bisa mengkodekan pengetahuan ke dalam bentuk yang explicit, lalu mengolahnya secara sistematis, karena informasi yang simpang siur atau asal jadi tidak bisa dijadikan bahan acuan. Kemudian, pengetahuan yang digarap sebaiknya difokuskan kepada pengetahuan yang berhubungan dengan unsur vital organisasi. KM juga merupakan proses berkesinambungan dengan tool dan teknik tertentu. Terakhir tapi tidak kalah penting, KM harus taktis dan bisa dimanfaatkan untuk membawa organisasi menuju tujuannya dengan hasil dan cara yang lebih baik, karena jika tidak, KM yang diterapkan belum sepenuhnya berhasil.

Knowledge management juga semestinya bisa dibedakan dari information management. Dengan mengacu kepada ilustrasi yang diberikan dalam buku Rainer. Kelly (2011), informasi yang telah diproses, ditelaah, dianalisa dan diintepretasikan oleh manusia baru bisa disebut pengetahuan. Sehingga KM merupakan sebuah kesatuan proses yang melibatkan manusia, tidak hanya berhenti pada infrastrukturnya saja. Dengan pemahaman ini, maka KM dapat dibedakan dari Information Management, terlebih dari Data Management.

Keterlibatan IT dalam penerapan KM belakangan semakin merupakan “enabler” jika dibandingkan dengan masa sebelum 1990-an yang hanya bersifat “support”. IT memungkinkan penyimpanan data dalam kapasitas besar secara efisien lewat repository ataupun data warehouse yang diorganisasi sehingga mudah dicari melalui index dan keyword. IT menyediakan sarana komunikasi yang cepat dan reliable sehingga mengeliminasi permasalahan perbedaan ruang dan waktu antara sumber pengetahuan dengan pencari pengetahuan. Dengan teknologi kolaborasi, IT menyediakan sebuah ruangan virtual untuk diskusi, seminar ataupun training yang dahulu sangat terbatas pada ruang dan waktu, sekarang bisa dilakukan dengan sangat efisien.

Bersamaan dengan konsep Web 2.0, maka KM juga mengalami evolusi menuju visi yang lebih berpusat pada partisipasi dan peran serta anggota. Ide ini ditandai dengan nama Enterprise 2.0 (McAfee 2006).

III.       Implementasi Knowledge Management

Untuk menjawab kebutuhan akan penyebaran corporate value dan peningkatan mutu seperti yang disebutkan diatas, perusahaan dan organisasi ternama sudah menerapkan proses KM selama bertahun – tahun, bahkan sebelum mereka menyadari dan menamai kegiatan mereka “knowledge management”.

Kebanyakan perusahaan yang bertaraf international membangun entitas atau lembaga formal dengan label “corporate university”. Berbeda dengan universitas komersial yang memberikan gelar yang diterima umum, gelar yang corporate university berikan lebih bersifat internal perusahaan. Akan tetapi, karena sifat pembelajarannya yang parallel dengan kasus dan situasi riil bisnis yang dihadapi perusahaan, corporate university dinilai lebih mengena (untuk internal perusahaan tersebut) dalam tujuan kaderisasi para pemimpin perusahaan ketimbang sekolah bisnis komersial. Crotonville corporate university boleh jadi lembaga yang paling dibanggakan General Electrics, seperti halnya Hamburger University milik Mc’Donalds, Apple University milik Apple dan Intel University milik Intel. Perusahaan Indonesia yang juga telah mengembangkan corporate university diantaranya Astra Group, dan bank-bank besar seperti Mandiri, BRI, dan BNI.

Masing-masing organisasi bisa memiliki pendekatan dan fokus yang berbeda dalam penerapan KM. Seperti juga diangkat oleh Lamont, berbagai jenis organisasi seperti layanan professional, firma hukum, dan produsen barang dan retail akan memiliki intensi yang berbeda untuk membangun sistem KM nya, sampai pada kriteria khusus untuk rekrutmen CKO (chief knowledge officer) mereka. Beberapa organisasi menempatkan role KM dibawah IT director, beberapa lainnya menempatkan role KM sebagai bagian dari role tim HR. Bahkan ada sebagian organisasi yang mana CKO nya bertindak sebagai jurnalis atau editor dan menjadi pencerita bagi perusahaannya. Departemen Pertanian membangun sistem intranet (intranet.deptan.go.id) sebagai wadah anggotanya untuk menampung kepustakaan informasi dan mencari pengetahuan untuk lingkup pertanian. LIPI memiliki langkah serupa tetapi memfokuskan sistem intranet KM yang dibangunnya untuk tujuan pengembangan riset.

Lewat kemajuan IT, implementasi KM lewat e-learning yang melingkupi groupware, wiki, atau online forum telah memperdekat jarak antar kantor cabang, sehingga sumber pengetahuan dan para trainee tidak perlu lagi dalam kelas yang sama. Hal ini tentu sangat menghemat biaya tranportasi, terlebih lagi menguntungkan dalam dimensi waktu dimana pengetahuan yang online dapat diakses kapan saja terlepas dari zona waktu yang berbeda.

Terlepas dari pesona kemuktahirannya, beberapa pengamat menemukan kelemahan (bahkan kerugian) dari implementasi Knowledge management konvensional. Sebut saja cuplikan blog Harvard Business Review oleh Freek Vermeulen (2009), “When Knowledge management Hurts.” Disebutkan bahwa proses pecarian pengetahuan dari rumitnya database perusahaan justru merupakan kerugian untuk aktivitas yang memerlukan orisinalitas, dan yang membutuhkan seseorang harus berdiri berbeda dari yang lain. Contoh yang dibawa Vermeulen adalah salah satu firma konsultan akuntansi dalam The Big Four, dalam usahanya untuk memenangkan tender sales. Mereka mengukur bahwa semakin banyak dokumen internal yang dijadikan bahan acuan oleh tim nya, semakin besar kemungkinan mereka untuk gagal mendapatkan tender.

Dalam bagian berikutnya, akan dibahas beberapa perspektif yang menganggap penerapan knowledge management perlu di-upgrade.

IV.        Permasalahan dalam implementasi Knowledge Management

Bahasan di bagian ini akan dikelompokan kedalam 2 kategori: aspek software, dan hardware dari KM. Aspek software yang dimaksud disini adalah unsur manusia dan semua karakteristik atau keadaan yang berhubungan dengan manusia. Aspek hardware lebih dimaksud untuk menunjuk kepada tool, teknik dan juga lingkungan yang dilibatkan.

Aspek “software”

Di dalam organisasi yang tidak mengenal knowledge management, pengetahuan yang berharga kebanyakan hanya baru didapatkan oleh anggota pada saat mereka menghadapi permasalahan tertentu, dan kemudian pengalaman tersebut diproteksi oleh yang bersangkutan sebagai nilai tambah pribadi dan memberi manfaat kepada dirinya sendiri. Proses seperti ini menyebabkan pertambahan nilai hanya terjadi pada individu anggota tersebut, sementara nilai organisasi tetap tidak bertambah. Ketika key person yang bersangkutan keluar dari organisasi, penerusnya kemungkinan besar tidak siap karena tidak ada pengetahuan yang ditinggalkan.

Dalam studi kasusnya, “How Reputation Affects Knowledge Sharing Among Colleagues[3] dengan objek 200 peneliti dalam 63 perusahaan farmasi, Ensign dan Hebert menemukan bahwa di antara sesama pekerja R&D, informasi dan pengetahuan sulit untuk beredar.

Di pihak lain, sebagian manajer beranggapan bahwa yang lebih bernilai adalah penciptaan pengetahuan baru ketimbang pencarian di database besar dan pemanfaatan pengetahuan yang sudah dimiliki organisasinya. Beberapa manajer merasa enggan untuk menulis dan menyimpan pengalaman yang dia baru dapatkan, sementara beberapa lainnya kurang termotivasi untuk mencari dan memanfaatkan database yang sudah ada.

Melihat jenisnya, sebagian besar pengetahuan adalah berupa pengetahuan tacit, maka merupakan tantangan tersendiri untuk mengelola jenis pengetahuan ini untuk mendukung KM. Skyrme (2000) menyarankan dua pendekatan: baik dengan terlebih dahulu menkonversi ke dalam format yang explicit, maupun dengan lebih memperlancar penyebaran pengetahuan tacit lewat sharing budaya, interaksi dan sosialisasi antar manusia yang lebih baik.

Dalam kasus di atas, unsur budaya (kultur) berpengaruh kuat dalam implementasi knowledge management dalam organisasi. Miranda Goeltom dalam bukunya “Mencairkan Gunung Es, Siasat Mengubah Kebuntuan dalam Organisasi” menggambarkan keberhasilan dari usaha konsisten Manajemen Bank Indonesia dalam “melelehkan” kebekuan antar karyawan, merombak pola hubungan dan komunikasi menjadi lebih terbuka, kesediaan untuk mendengar dan ketulusan berbagi, demi kemajuan organisasi. Proses ini masih berjalan, namun bisa dibanggakan karena sudah nampak hasilnya.

Aspek “hardware”

Kendala lain, berkenaan dengan infrastuktur IT yang dimaksud sebagai dasar dimana KM diimplementasikan. Bahwa teknologi IT, secanggih apapun hanya akan mampu untuk menyimpan data bit ataupun data pixel. Yogesh Malthora dalam wawancara dengan CIO Magazine[4] mengatakan: “But they can’t store the rich schemas that people possess for making sense of data bits.” Dijelaskan juga, informasi bersifat context-sensitive, dalam artian sebuah sumber yang sama bisa dipahami secara berbeda oleh orang yang berbeda dan /atau dalam konteks yang berbeda. Pengetahuan dan pengalaman seseorang tidak akan bisa diwakilkan sepenuhnya hanya dengan deretan bit computer.

Dalam kaitannya dengan dunia bisnis, Malthora menggambarkan kondisi dan karakterisktik bisnis saat ini menuntut model pemecahan masalah yang lebih fleksibel. Solusi yang tepat untuk hari kemarin belum tentu merupakan jawaban yang baik hari ini. Begitu juga, sebuah “best-practice” jika tidak secara rutin di-analisa sensibilitasnya bisa jadi sebuah “worst-practice”. Dalam bahasa lain, logika sukses kemarin tidak bertlanslasi langsung menjadi logika sukses untuk esok[5].

John Hagel III and John Seely Brown (2010) berpendapat dalam blog Harvard Bussiness Review[6] bahwa walaupun KM berhasil menangkap dan mensosialisasikan pengetahuan organisasi, sebagian besar repository dan directory masih terpecah-pecah dan para anggotanya tidak terbiasa memanfaatkan system tersebut. Karena informasi yang terkumpul kurang di-organisasikan, kebanyakan pengguna kesulitan untuk menemukan pengetahuan (knowledge) yang mereka butuhkan.

Juga, menurut review McAfee (2006), sistem KM yang konvensional hanya berfokus kepada pengumpulan pengetahuan yang baku sudah ada, tetapi kurang menangkap kegiatan (practice) dan keluaran (output) dari para knowledge worker. Sehingga menurutnya, KM konvensional tidak bisa menjawab pertanyaan seperti: Apa pendekatan yang paling cocok untuk analisa ini? Apakah tersedia template untuk ini? Siapa yang saat ini sedang bekerja juga pada permasalahan yang serupa? Atau, apa topik terbaru pada divisi R&D saat ini?

Pendekatan yang diberikan dalam menjawab kekurangan diatas antara lain dengan mengambil manfaat Web 2.0. Berkaca dari kesuksesan Web 2.0 dimana setiap pengguna internet bisa menghasilkan, berbagi, dan memperbaiki informasi di website, Enterprise 2.0 yang diusung oleh McAfee (2006) menyarankan agar setiap knowledge worker dalam organisasi lebih bebas dan terbuka untuk menampilkan practice dan output mereka. Sebagai contoh transaksi yang sedang ditangani dan outputnya, serta identitas pembuat berita. Sehingga pencari pengetahuan lain yang berkepentingan bisa melakukan interaksi langsung untuk saling bertukar saran.

Pendekatan McAfee (2006) ini diklaim tidak memerlukan keterampilan IT yang rumit karena komponennya sudah dekat dengan masyarakat: Search, Links, Author, Tags, Extension, dan Signals (disingkat SLATES). Sehingga pengguna awam bisa memanfaatkannya dengan sedikit latihan atau bahkan tanpa latihan sama sekali.

Jelas disini, konsep knowledge management tidak boleh berhenti sampai pada penggalian, pengelolaan, penyebaran, dan pemanfaatan informasi saja, tetapi perlu secara berkesinambungan informasi didalamnya dianalisa dan diasah relevansinya dengan situasi bisnis termutakhir.  Bahkan, beberapa pengetahuan yang sudah tidak update sangat disarankan untuk dipisahkan sehingga tidak mengurangi keakuratan pengetahuan lainnya.

 

V.           Penutup

Kesimpulan

Organisasi yang sehat bertujuan untuk terus berkembang. Layaknya manusia yang memerlukan pembelajaran supaya mempunyai nilai lebih, organisasi memerlukan pembelajaran yang berasal dari penggalian, pengelolaan, penyebaran dan pemanfaatan pengetahuan yang berasal dari anggotanya. Proses pengelolaan pengetahuan ini, dan pemanfaatannya untuk nilai organisasi yang lebih baik dikenal dengan Knowledge management.

Teknologi Informasi (IT) bukan lagi merupakan support system, tapi enabler. Pemanfaatan tool di bidang IT: groupware, repository, datawarehouse, blog, forum, wiki, e-mail, dan sistem kolaborasi dan sharing; merupakan pondasi dan jembatan yang menghilangkan batasan ruang dan waktu, serta memfasilitasi proses pembelajaran orang dewasa yang berbeda kecepatan satu sama lain.

KM seharusnya dipandang sebagai proses yang membangun dan bukan alasan yang membatasi orisinalitas. Jika ternyata hasil yang didapatkan justru merugikan organisasi, maka ada unsur dari system tersebut yang perlu di-upgrade.

KM system merupakan siklus yang harus selalu berputar. Pengetahuan yang sudah didapat dan dikelola harus disebarkan dan dievaluasi, sehingga pengetahuan organisasi akan selalu up-to-date dan relevan dengan situasi bisnis terkini.

Partisipasi dari knowledge worker yang proaktif merupakan bagian yang terpenting dan integral dari system KM. Para anggota perlu ditanamkan ideology bahwa kepentingan organisasi adalah lebih penting dari pada kepentingan individu. Manusia (knowledge worker) merupakan sumber dari pengetahuan dalam perusahaan / organisasi, sehingga ketika informasi yang di-database-kan dirasa kurang, konsultasi kepada sumber pengetahuan merupakan bagian yang integral dengan system KM. Juga, karena system IT tidak mampu untuk “mempertanyakan” dan “mengevaluasi” apa yang yang belum system tersebut ketahui, manusialah yang perlu mengevaluasi keabsahan pengetahuan yang akan dimasukkan ke sistem.

Saran

Perlunya dibangun suatu budaya kepada masyarakat kita untuk lebih “cair”, lebih tulus berbagi pengetahuan, lebih sedia untuk mendengar, dan lebih terbuka dalam menerima masukan atau kritik sehingga tercipta masyarakat yang terus menerus saling mengasah untuk kebaikan dan nilai tambah organisasi, perusahaan, bangsa dan dunia. Keberhasilan BI dan manajemennya dalam menerapkan KM boleh dijadikan pemacu semangat bahwa bangsa kita mampu untuk saling menopang demi kemajuan nasional.

Dalam jangka pendek, strategi yang bisa diterapkan untuk mulai membangun budaya ini bisa dengan memberikan “pemaksaan” untuk mengajukan suatu usulan solusi terhadap masalah dalam bidangnya, insentif untuk sharingbest-practice”, dan penghargaan umum untuk saran pengukuran dan perbaikan KPI atas terlaksananya KM.

Untuk jangka panjang, platform yang digagas dalam Enterprise 2.0 bisa direalisasikan. Karena teknologi Web 2.0 sudah membuktikan bahwa ketika informasi bukan lagi barang yang eksklusif, hampir semua pengguna internet dengan inisiatifnya berbagi dan tanpa paksaan. Hal serupa diharapkan oleh Enterprise 2.0 bahwa ketika fasilitas dan konteksnya tersedia, pengetahuan bukan lagi sesuatu yang eksklusif, bahkan di-sharing secara cuma-cuma dan diasah terus menerus.

Seiring dengan strategi diatas, perlu juga disediakan ruang – ruang diskusi dengan fasilitator yang kompeten yang available dari waktu ke waktu untuk memfasilitasi dan menjawab pertanyaan mendesak dari praktisi yang mencari pengetahuan.

Referensi

“Ayo Membangun Corporate University”, Majalah Human Capital No. 5 tahun 2004. http://www.portalhr.com/majalah/edisisebelumnya/fokus/detail.php?cid=1&id=110&pageNum=1  diakses 17 Sep 10.

Ensign, and Herbert. (2010). “How Reputation Affects Knowledge Sharing Among Colleagues”:http://hbr.org/product/how-reputation-affects-knowledge-sharing-among-col/an/SMR342-PDF-ENG?Ntt=knowledge

Goeltom, M. S. (2008). Mencairkan Gunung Es, Siasat Mengubah Kebuntuan: Murai Kencana.

Hagel and Brown. (2010). “A Better Way to Manage Knowledge”: http://blogs.hbr.org/bigshift/2010/01/a-better-way-to-manage-knowled.html, dibuka 9 Sep 10

Lamont, J. “Knowledge Management: Shaping the Profession”, http://www.leader-values.com/Content/detail.asp?ContentDetailID=154, diakses 17 Sep 10

Malthora, Yogesh. (2010). “Intellectual Capitalism: Does KM=IT?”: http://www.brint.com/advisor/a091599.htm, dibuka 6 Sep 10

Malthora, Yogesh. (2010). “What is really Knowledge management? Crossing the Chasm of Hype”: http://www.brint.com/advisor/a092099.htm, dibuka 6 Sep 10

McAfee, Andrew P. (2006). “Enterprise 2.0: The Dawn of Emergent Collaboration. Sloan Management Review 47 (3): 21–28. http://sloanreview.mit.edu/the-magazine/articles/2006/spring/47306/enterprise-the-dawn-of-emergent-collaboration/. Dibuka 9 Sep 10

Rainer. Kelly, (2011). Introduction to Information Systems 3rd edition, John Wiley.

Setiarso, B. “Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) dan Proses Penciptan Pengetahuan”, http://www.ilmukomputer.org/wp-content/uploads/2006/09/bse-kmiptek.pdf, diakses 17 Sep 10

Skyrme, D.J. (2000). Developing a knowledge strategy: from management to leadership. Dalam “Reflections on knowledge management in school”: http://www.thecorner.org/ict/km_reflections.html, dibuka 8 Sep 2010

Skyrme, D. J. (2007). “KM Basics”: http://www.skyrme.com/resource/kmbasics.htm, dibuka 7 Sep 2010

Vermeulen, F. (2009). “When Knowledge management Hurts”, http://blogs.hbr.org/vermeulen/2009/03/when-knowledge-management-hurt.html, dibuka 6 Sep 10.

 


[2] Skyrme, David J. (2007). “KM Basics”: http://www.skyrme.com/resource/kmbasics.htm, dibuka 7 Sep 2010

[3] Ensign, and Herbert. (2010). “How Reputation Affects Knowledge Sharing Among Colleagues”:http://hbr.org/product/how-reputation-affects-knowledge-sharing-among-col/an/SMR342-PDF-ENG?Ntt=knowledge

[4] Malthora, Yogesh. (2010). “Intellectual Capitalism: Does KM=IT?”: http://www.brint.com/advisor/a091599.htm, dibuka 6 Sep 10

[5] Malthora, Yogesh. (2010). “What is really Knowledge Management? Crossing the Chasm of Hype”: http://www.brint.com/advisor/a092099.htm, dibuka 6 Sep 10

[6] Hagel and Brown. (2010). “A Better Way to Manage Knowledge”: http://blogs.hbr.org/bigshift/2010/01/a-better-way-to-manage-knowled.html, dibuka 9 Sep 10