Case 1 in Ferrel, Business; A Changing World, 7e: Clothing Industry Goes Green

By: Marcel Wijaya, for: group discussion in IB course.

I.                   Pengertian

Etika bisnis didefinisikan sebagai sebagai prinsip dan standar yang menentukan perilaku-perilaku yang dapat diterima dalam organisasi bisnis. Prinsip dan standar penerimaan tersebut ditentukan oleh pelanggan, pesaing, peraturan pemerintah, kelompok komunitas, dan masyarakat umum, serta juga prinsip dan nilai moral dari setiap individu dalam organisasi tersebut. Sedangkan, tanggung jawab social didefinisikan sebagai kewajiban organisasi untuk memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negative pada masyarakat.

Kepedulian terhadap etika dan tanggung jawab dasar telah dituangkan pada hukum dan peraturan yang mendorong bisnis untuk bertindak sesuai dengan standard, nilai dan perilaku masyarakat. Dalam pembahasan kaitan etika dan hokum terdapat daerah abu-abu, dimana kegiatan yang dianggap tidak etis, belum tentu berarti melangar hokum. Ditambah lagi konsern untuk standar etis dan hukum berubah seiring waktu. Seperti dirangkum pada table 1.

Tabel 1 Perubahan standar dan nilai Etika dan Tanggung Jawab Sosial

Terdapat banyak permasalahan dan perselisihan dalam bisnis bisa dihindari jika pemilik, pengelola dan para karyawan mengetahui dan mengamalkan sistem hukum dan legal bisnis. Etika bisnis, tanggung jawab sosial dan hukum bersama betindak sebagai system kepatutan, yang megharuskan organisasi bisnis dan karyawan berlaku secara bertanggung jawab dalam masyarakat.

II.                Tanggung jawab sosial

Tanggung jawab sosial memiliki 4 dimensi: ekonomi, legal, etika dan kegiatan sukarela. Hubungan antara keempat dimensi ini di rangkum dalam piramida tanggung jawab sosial pada Gambar 1. Mencari keuntungan merupakan tanggung jawab mendasar perusahaan , langkah selanjutnya adalah bertindak sesuai dengan hukum yang berlaku. Kemudian, ketika organisasi bisa beroperasi pada tingkatan norma – norma etis (diluar hanya sekedar beroperasi sesuai aturan hukum) maka organisasi tesebut dianggap menjalankan tanggung jawab sosial etis. Kegiatan sukarela menjadi tingkatan tertinggi karena perusahaan yang menerapkannya dinilai lebih berinisiatif melakukan hal bermanfaat diluar keharusan-keharusannya.

Gambar 1 Piramida Tanggung Jawab Sosial

Corporate citizenship adalah perluasan dimana perusahaan melakukan tanggung jawab sosial ekonomi, legal, etik, dan sukarelanya atas kehendak stakeholder nya. Issue dalam corporate citizenship yang paling berkembang saat ini adalah pelestarian lingkungan. Baik pelanggan, pemerintah, dan komunitas pecinta lingkungan sangat peduli akan gas rumah kaca, dan emisi CO2 yang berkontribusi pada pemanasan global.

Sebagian besar masyarakat setuju bahwa perubahan iklim ini merupakan keadaan darurat global. Jawaban atas krisis ini antara lain: energi alternatif (energi matahari, angin, biogas, panas bumi, dan air), inisiatif hijau dengan pemilihah peralatan dan bahan yang menghasilkan lebih sedikit emisi CO2 dalam aktivitas, penghijauan taman kota dan lahan kosong di atap gedung, optimalisasi reuse, reduce dan recycle.

Berkenaan dengan etika dan tanggung jawab sosial bisnis, Ferrel, Hirt dan Ferrel dalam buku Business  in A Changing World menyampaikan beberapa argumen yang menilai perlunya perusahaan turut terlibat aktif, diantaranya: entitas bisnis berperan menciptakan permasalahan sosial sehingga seharusnya juga mengambil bagian dalam penyelesaiannya, perusahaan dinilai memiliki dana dan sumber daya yang berkompeten, entitas bisnis juga adalah bagian dari masyarakat sehingga sangat wajar turut serta membangun masyarakat. Melalui pelaksanaan tanggung jawab sosial, perusahaan berkepentingan untuk menjamin kelangsungan pertumbuhan ekonomi, sehingga secara tidak langsung sebenarnya mempersiapkan calon konsumen dengan daya beli yang memadai untuk masa depan. Strategi bisnis hijau tidak hanya memberikan perusahaan keuntungan komersial di pasar, tetapi juga menciptakan dunia yang lebih lestari.

Hubungan dengan pemilik usaha dan pemegang saham

Perusahaan pertama-tama berkepentingan dan bertanggung jawab terhadap pemilik dan pemegang saham, yang peduli terhadap kinerja dan keuntungan yang dihasilkan dari modal yang mereka tanamkan. Kewajiban perusahaan kepada para investor dan masyarakan finansial secara umum adalah meliputi pengerjaan procedure akuntansi berterima umum, penyediaan informasi terkait mengenai kinerja saat ini dan proyeksinya untuk masa datang dan kepastian hak-hak atas investasi mereka. Singkat kata, perusahaan bertanggung jawab memaksimalkan investasi para pemilik saham.

Hubungan pekerja

Para pekerja berharap perusahaan dapat memfasilitasi mereka dengan tempat kerja yang memadai dan aman, membayar mereka secara adil dan layak untuk kerja mereka, dan informasi tentang apa yang sedang terjadi dalam perusahaan tersebut. Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja sangat membantu untuk menjadi pedoman terhadap keputusan-keputusan yang diterapkan perusahaan terhadap para pekerjanya. Serikat pekerja juga telah membuat kontribusi yang jelass dapam pencapaian keselamatan kerja dan peningkatan kesejahteraan pekerja. Sebagian besar perusahaan saat ini telah menyadari bahwa keselamatan dan kepuasan pekerja adalah komposisi penting dari berhasilnya perusahaan.

Di tempat lain, kesetaraan derajat untuk para pekerja terlepas dari jenis kelamin, ras, usia dan golongan juga merupakan issue penting dalam tanggung jawab sosial perusahaan. Di masa lalu, sangat banyak kesenjangan antar pekerja terjadi karena perlakuan berbeda yang diberikan perusahaan terhadap golongan atau jenis kelamin tertentu. Namun seiring perkembangan jaman, perusahaan telah banyak melakukan penyesuaian untuk menjalankan kewajiban mereka dalam penyediaan kesempatan yang setara bagi wanita dan kaum minoritas.

Hubungan konsumen

Bisnis juga memiliki tanggung jawab besar terhadap konsumennya, yang memilih perusahaan yang menyediakan produk yang aman, memuaskan dan menghormati hak – hak konsumen. Konsumen dapat memberi feedback bahkan menekan para pengusaha lewat pengacara dan surat kepada perusahaan, laporan kepada lembaga pemerintah misalnya YLKI, publikasi lewat media massa dan surat pembaca, sampai pada tindakan boikot terhadap perusahaan yang dinilai tidak bertanggung jawab.

Konsumen di Amerika sejak tahun 1962 memiliki 4 hak yang dilindungi oleh undang-undang, antara lain: right to safety, right to be informed, right to choose, dan right to be heard. Right to safety melindungi konsumen dari perusahaan yang secara sengaja memasarkan produk yang dapat membahayakan konsumen. Right to be informed memberikan konsumen kebebasan untuk mempelajari informasi yang lengkap dari sebuah produk sebelum melakukan pembelian. Ini mengharuskan komposisi, petunjuk penggunaan dan resiko penggunaan dicetak pada kemasan dan label produk. Right to choose memastikan bahwa konsumen memiliki akses terhadap sejumlah produk dan layanan pada harga yang wajar dan kompetitif. Right to be heard menjamin konsumen bahwa kepentingan konsumen akan diperhitungkan secara penuh dan simpatik pada setiap perumusan undang-undang dan peraturan pemerintah.

Issue lingkungan

Karena kesadarannya akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, masyarakat saat ini semakin menuntut perusahaan dan organisasi bisnis untuk lebih menunjukkan tanggung jawab terhadap aktivitas mereka dan dampaknya pada lingkungan. Concern yang dimaksud mencakup perlakuan adil bagi hewan, dan polusi.

Perlakuan adil bagi hewan

Praktek bisnis yang disorot dalam issue ini antara lain industri kosmetik dan obat-obatan yang menggunakan hewan sebagai objek percobaan produk mereka, yang mungkin menyakiti atau bahkan sampai membunuh hewan percobaan tersebut. Konsumen dengan kepedulian terhadap issue ini dapat melakukan pem-boikotan terhadap industri yang menggunakan hewan sebagai bahan percobaan dan atau beralih ke produk lain sejenis yang tidak menggunakan hewan percobaan. Kondisi yang hampir serupa juga menyangkut industri pakaian atau fashion yang menggunakan bagian tubuh hewan sebagai bahan baku, contohnya tas kulit, syal kulit rubah, dan lain sebagainya.

Polusi

Kepedulian terhadap lingkungan juga menentang aktivitas yang tidak memperhatikan buangan limbah dan polusi. Air bisa terpolusi dari bahan kimia beracun, buangan limbah ke sungai dan laut tanpa diolah, tumpahan minyak, timbunan limbah industri di tanah dimana bisa merusak kualitas air tanah. Pupuk dan insectisida juga bisa meracuni air tanah. Polusi terhadap tanah berdampak langsung terhadap polusi air, karena bahan-bahan berbahaya yang larut dalam tanah akan terbawa air ke cadangan air tanah. Ini termasuk buangan limbah rumah tangga seperti sabun, plastik dan sisa obat. Polusi tanah lainnya berasal dari kegiatan pertambangan, pembakaran hutan untuk pembukaan lahan, penebangan liar dan konservasi hutan yang kurang baik. Pembukaan hutan (deforestasi) mengurangi suplai oksigen yang tersedia bagi manusia dan hewan.

Kegiatan penanggulangan issue lingkungan

Sebagai bagian dari respons terhadap issue lingkungan, pemerintah Indonesia sebagai contoh menerapkan dan mengharuskan studi AMDAL[1] dalam setiap perencanaan pembukaan hutan dan usaha. Banyak juga perusahaan baik besar maupun kecil, sebut saja Walt Disney dan Chevron, yang membuat posisi eksekutif khusus dalam struktur usahanya – Wakil Presiden Direktur urusan Lingkungan (Vice President of environmental affairs – untuk menjamin perusahaan mereka bisa mencapai tujuan usahanya namun tetap menjaga kegiatan usahanya bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan. Bentuk usaha lainnya menuliskan peraturan tentang lingkungan dalam peraturan perusahaannya, meningkatkan usaha-usaha daur ulang dan pemakaian ulang kemasan produk, dan juga investasi dalam sistem pengolahan limbah.

Perusahaan yang mengusahakan kegiatan – kegiatan untuk menjadikan produk mereka lebih ramah lingkungan dapat diberikan lable “bisnis hijau”. Sebagai contoh green business certification (http://www.gbcertified.com/home09.asp diakses 23 Oct 10)

III.             Clothing Industry Goes Green

Kasus yang diangkat oleh Ferrell, Hirt, dan Ferrell dalam pembahasan tanggung jawab sosial adalah industri pakaian yang seharusnya lebih ramah lingkungan.

Permasalahan lingkungan yang disebabkan industri pakaian

Dalam tulisannya, “My battle to green the clothing industry”[2], Katharine Hamnett yang merupakan seorang yang kompeten di industri ini dalam karirnya sebagai desainer menjelaskan bahwa pengamatannya mengenai dampak lingkungan dari industri pakaian sangat menakutkan. Sebagai industri terbesar ke-empat, industri pakaian diperkirakan mempekerjakan total 1 milyar orang pada tahun 1989.

Keseluruhan proses industri ini mengandung dampak negative bagi lingkungan, seperti dirangkum dibawah ini:

-          Pestisida yang digunakan untuk menjaga tanaman kapas (katun) dari hama dapat meracuni kehidupan liar, dan mengkontaminasi air sungai dan kehidupan didalamnya. Sekitar 100 ribu petani meninggal keracunan pestisida setiap tahunnya, dan 200 ribu lainnya menderita penyakit akut karena pestisida.

-          Bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi pakaian sebagai pemutih (clorine bleach) menghasilkan limbah pathogen paling berbahaya di dunia: dioxin, proses pewarnaan dan cetak pakaian juga sangat rentan terhadap kebocoran logam berat yang dapat meracuni sungai dan sumber air bersih bagi makhluk hidup.

-          Mesin – mesin yang dipakai dalam industri pakaian sangat berisik, menyebabkan polusi suara dan udara

-          Pemakaian sumberdaya alam seperti air yang berlebihan untuk tanaman kapas mengganggu keseimbangan ekosistem

-          Untuk bahan nylon dan polyester yang merupakan bahan sintetis membuat pakaian yang dihasilkan menjadi non-biodegradeable. Proses produksinya juga menghasilkan gas nitro oxide, gas rumah kaca yang 310 kali lebih berbahaya dari CO2

-          Untuk bahan kulit dan wool selain polusi yang dihasilkan juga bermasalah dengan issue exploitasi terhadap hewan

-          Dari segi pekerja dalam industri ini, sebagian besar merupakan buruh dengan upah sangat rendah, tidak jarang adalah anak-anak yang dibayar sangat murah.

Green Clothing Industry – Eco-fashion

Istilah Eco-fashion mewakili industri pakaian yang memperhatikan kelestarian lingkungan, kesehatan konsumen dan kondisi kerja yang baik bagi para pekerja. Konsep eco-fashion meliputi:

-          Bahan baku yang organic, sebagai contoh kapas yang ditanam tanpa pestisida atau sutra yang didapat dari ulat yang mengkonsumsi tanaman organic

-          Proses produksinya tidak melibatkan bahan-bahan kimia yang berbahaya sebagai pewarna

-          Memanfaatkan bahan daur ulang sebagai bahan baku

-          Dibuat lebih tahan lama, sehingga konsumen dapat memakainya untuk jangka waktu yang lebih panjang

-          Melalui perdagangan yang adil, mencakup upah dan kondisi kerja yang wajar bagi para pekerjanya

-          Bahan baku alternative yang ramah lingkungan sebagai contoh kain dari serat bamboo, singkong ataupun jute.

Beberapa industri pakaian yang telah menerapkan green industri antara lain Patagonia yang didirikan oleh pencinta lingkungan Yvon Chouinard di tahun 1973 telah mengusahakan industrinya seramah mungkin dengan lingkungan. Ditambah lagi sejah tahun 1993 mulai memroses botol soda untuk didaur ulang menjadi bahan baku pakaian. Di tahun 1996, secara eksklusif menggunakan kapas organic sebagai bahan bakunya. Patagonia juga mengimplementasikan program daur ulang bahan, dimana konsumen dapat menukarkan pakaian lama mereka untuk dipakai bahannya dalam pakaian yang baru. Teva sandal and shoes juga memperkenalkan produk meraka yang diproduksi dari bahan-bahan daur ulang karet ban mobil dan botol plastic.

Permasalahan yang dihadapi green clothing

Karena semakin teredukasi, konsumen menjadi lebih kritis dalam pemilihan produk yang diklaim ramah lingkungan, namun tidak sampai di situ. Bahkan untuk perusahaan yang sudah menyebut produknya diproses secara organik, masyarakat masih menuntut pemilik bisnis untuk mengukur sampai tingkat mana produksinya dilakukan secara “hijau”. Hal ini yang dihadapi juga oleh Patagonia sehingga perusahaan ini membentuk tim yang diberi nama Footprint Chronicles. Tim ini akan mendokumentasikan dan membagikan informasi kepada umum, termasuk competitor, efek lingkungan yang disebabkan dalam setiap bagian dari Supply Chain Patagonia.

Terlepas dari meningkatnya kesadaran lingkungan, para konsumen ternyata masih mendasarkan pilihan produk mereka pada harga dan gaya. Ini membatasi perkembangan dari produk-produk pakaian ramah lingkungan seperti dijelaskan diatas. Dengan memastikan didapatkan dari perdagangan yang adil untuk para pelaku industrinya, harga dari pakaian ramah lingkungan sudah tentu lebih tinggi dari rivalnya. Kebanyakan konsumen juga tidak menyangka bahwa pakaian yang diproduksi secara organic bisa bergaya. Beberapa desainer tingkat dunia seperti Stella McCartney, Donna Karan, H&M, dan Rogan telah mengeluarkan mode mereka dalam versi organik. Para selebriti popular juga memanfaatkan ketenaran mereka dalam mengampanyekan pakaian organik.

IV.             Penutup

Kesimpulan

Bahwasannya industri pakaian konvensional sangat banyak berkontribusi pada issue lingkungan dan tenaga kerja, maka sesuai dengan tanggung jawab sosial bisnis di bidang lingkungan dan hubungan pekerja diperlukan inisiatif dari para pemilik dan pengelola industri pakaian untuk beralih ke cara bisnis yang lebih ramah lingkungan dan lebih adil terhadap pekerja. Inisiatif yang dimaksud adalah perilaku bisnis yang ramah lingkugan, adil bagi para pekerja dan menjamin kesehatan dan keselamatan konsumen.

Dengan menganut bisnis hijau, industri pakaian dapat berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan dengan meniadakan tingkat kontaminasi tanah dan air dari pestisida dan herbisida pada tahap pertanian, meniadakan limbah racun pathogen dioxin, NO2 dan juga logam berat pada proses produksi dan pewarnaan. Pemanfaatan barang-barang bekas dan daur ulang jelas meningkatkan nilai dari barang-barang yang semula sudah tidak berguna sehingga mengurangi beban lingkungan dari barang-barang buangan. Dengan meniadakan bahan-bahan berbahaya, industri juga berperan pada tanggung jawab sosial terhadap keselamatan dan kesehatan konsumen. Kesejahteraan dan keselamatan para pekerja industri juga lebih terjamin.

Walaupun bertujuan baik, penerapan bisnis hijau dalam industri pakaian tetap saja menemui hambatan diantaranya konsumen yang tetap memilih produk yang lebih gaya dan lebih murah. Sehingga perusahaan banyak menemui dilema disatu sisi bahan baku dan produksi yang ramah lingkungan jelas menimbulkan biaya tambahan dan masih jarang desainer yang terjun di bidang ini, di sisi lain, konsumen menuntut produk yang berkualitas dengan harga kompetitif.

Walaupun tingkat kemajuan perubahan menuju industri pakaian yang ramah lingkungan banyak menemui kendala, namun secara keseluruhan dan global industri ini telah bergerak ke arah yang semestinya.Dari sisi konsumen, peminat produk-produk ramah lingkungan diluar kendaraan dan makanan dinyatakan meningkat 15% di tahun 2007 oleh Marshall Cohen dari riset pasar oleh NDP Group. Di sisi desainer, jika di tahun 2004 Leslie Hofman dari Earth Pledge hanya menemukan 50 sampai 60 material terbarui yang dipakai dalam industri pakaian, di tahun 2010 ada sekitar 700 material terbarui.

Saran

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dunia bisnis adalah dengan memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negative bagi lingkungan, maka industri pakaian yang ramah lingkungan dan adil bagi para pekerjanya adalah jawaban yang ideal. Industri pakaian sebagai jenis industri terbesar keempat di dunia semestinya lebih memfokuskan diri dalam menjawab tantangan pasar untuk menciptakan produk organik yang lebih baik dengan harga yang lebih terjangkau dan bukan malah memanfaatkan minat konsumen yang masih besar terhadap produk konvensional yang harganya lebih kompetitif. Kampaye yang lebih gencar tentang industi pakaian ramah lingkungan juga merupakan tanggung jawab pemerintah, kelompok masyarakat dan bisnis yang telah memahami kerugian yang ditimbulkan industri konvensional.

Tuntutan konsumen merupakan salah satu faktor pengerak penting bagi industri diluar tekanan peraturan pemerintah. Sehingga, konsumen sebenarnya punya andil yang sangat besar guna menumbuhkan dan menyuburkan industri pakaian yang ramah lingkungan. Dengan memahami konsekuensi dan kerugian tetap memilih produk dari industri konvensional, dan mempertimbangkan keuntungan dari industri hijau, konsumen punya daya yang besar untuk mendorong industri lebih cepat beralih. Jika bukan kita yang memilih untuk menolak produk dengan bahan kimia berbahaya, maka kita dan keturunan kita akan terus menerus menemui bahan pangan yang mengandung logam berat dan bahan kimia beracun sebagai konsekuensinya.

Referensi

Agustin,Lenny. “Baju Ramah Lingkungan dari Singkong dan Kawat”. http://bataviase.co.id/node/191028, diakses 24 Oct 10

Ferrell O.C., Hirt Geoffrey A, Ferrel Linda. “Business in a Changing World 7th edition”. McGraw Hill. 2009

Hamnett, Katharine. “My Battle to Green the Clothing Industry”, http://www.theecologist.org/green_green_living/clothing/268668/my_battle_to_green_the_clothing_industry.html, diakses 23 Oct 10

“Impact of Textiles-and Clothing Industryon Environment”, http://www.fibre2fashion.com/industry-article/textile-industry-articles/impact-of-textiles-and-clothing-industry-on-environment/impact-of-textiles-and-clothing-industry-on-environment2.asp, diakses 23 Oct 10

Walker, Alissa. “Measuring Footprints”, http://www.fastcompany.com/magazine/124/measuring-footprints.html, diakses 23 Oct 10

http://www.dephut.go.id/files/6_07.pdf, diakses 23 Oct 10

http://www.gbcertified.com/home09.asp, diakses 23 Oct 10